Search

Siaran Pers

Hadapi Musim Paceklik, Pemerintah Guyur 1 Juta Ton Beras SPHP dan 150 Ribu Ton Jagung SPHP


Hadapi Musim Paceklik, Pemerintah Guyur 1 Juta Ton Beras SPHP dan 150 Ribu Ton Jagung SPHP

07 September 2026

Hadapi Musim Paceklik, Pemerintah Guyur 1 Juta Ton Beras SPHP dan 150 Ribu Ton Jagung SPHP

Jakarta, 7 September 2026 – Pemerintah bergerak cepat merespons kenaikan harga beras dan tepung beras yang terjadi di tengah kondisi kemarau kering dan memasuki periode paceklik produksi pangan.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan kondisi tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada 2025, periode September hingga Desember ditandai kemarau basah sehingga masih ada hujan yang memungkinkan petani melakukan penanaman padi dan menjaga pasokan beras di pasar.

“Tahun lalu kita kemarau basah. September sampai Desember masih ada hujan, sehingga petani masih bisa tanam padi. Produksi masih ada, supply masih ada. Kita masih bisa menahan harga,” ujar Zulkifli Hasan dalam konferensi pers usai rapat Rakortas Pengelolaan dan Penyaluran CBP Tahun 2026  , Senin (7/9/2026).

Namun, kondisi tahun ini berbeda. Kemarau yang panjang dan lebih kering menyebabkan kegiatan tanam dan produksi di sejumlah sentra produksi mengalami penurunan, sehingga pasokan beras ke pasar menjadi lebih terbatas dan memasuki periode paceklik. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat tetap berjalan sehingga terjadi tekanan terhadap harga beras.

“Tahun ini kondisinya lebih kering. Memasuki musim paceklik, pasokan dari sentra produksi berkurang, sementara permintaan tetap ada. Karena itu harga beras mengalami kenaikan,” jelasnya.

Berdasarkan data dari BPS dan Bapanas, harga beras medium pada periode Januari–September 2026 meningkat dari Rp13.857/kg menjadi Rp14.060/kg, atau naik sekitar Rp203/kg. Sementara harga beras premium meningkat dari Rp15.505/kg menjadi Rp15.794/kg, atau naik sekitar Rp289/kg.

Kenaikan harga beras premium turut memberikan tekanan terhadap harga beras secara umum.

Untuk merespons kondisi tersebut, pemerintah memutuskan sejumlah langkah untuk memperkuat pasokan dan menjaga keterjangkauan harga.

Pertama, pemerintah menambah penyaluran SPHP beras medium sebesar 1 juta ton untuk memperkuat pasokan di pasar, khususnya pasar tradisional. Beras SPHP akan dijual dengan harga sekitar Rp12.000–Rp12.500 per kilogram.

“Kalau harga naik Rp100 sampai Rp200, kita respons dengan menambah supply. Kita banjiri pasar dengan beras SPHP sehingga harga bisa kita turunkan kembali,” kata Zulkifli.

Pemerintah juga meminta Bulog mempercepat penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat penerima manfaat desil 1 sampai desil 4, dengan total penerima sekitar 33,2 juta penerima. Bantuan pangan tersebut berupa beras 10 kilogram per bulan selama tiga bulan yang akan dirapel sehingga masyarakat menerima 30 kilogram sekaligus. “Ini kita minta Bulog selesaikan dalam bulan ini. Jadi masyarakat menerima sekaligus 30 kilogram. Kita ingin beras benar-benar sampai ke masyarakat,” ujar Zulkifli. Langkah ini diharapkan sekaligus memperkuat daya beli masyarakat berpendapatan rendah dan menjaga konsumsi pangan tetap terjangkau.

Untuk mengantisipasi penurunan produksi jagung akibat kemarau, pemerintah juga menyiapkan pasokan jagung untuk peternak kecil berskala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).  Bulog saat ini memiliki sekitar 230 ribu ton stok cadangan jagung pemerintah dari total pengadaan 1 juta ton. Dari stok tersebut, nantinya sekitar 150 ribu ton akan dialokasikan untuk memasok kebutuhan peternak UMKM, bukan industri peternakan skala besar.

“Kita ingin peternak-peternak UMKM tidak terkena dampak kenaikan harga jagung. Musim kemarau membuat produksi turun dan harga naik, sehingga supply untuk peternak harus kita jaga,” jelasnya.

Pemerintah juga merespons kenaikan harga tepung beras dengan memanfaatkan stok beras yang bisa mengalami penurunan mutu namun sesuai untuk bahan baku tepung beras. Kementerian Perindustrian menghitung bahwa dibutuhkan 380.000 ton beras untuk bahan baku industri tepung beras. Pemerintah memutuskan beras tersebut dapat dilelang dengan harga minimal Rp11.000 per kilogram untuk kemudian diolah oleh industri menjadi tepung beras.

“Beras yang kurang mutu ini bisa dibeli oleh pabrik tepung untuk dijadikan tepung. Jadi kita harapkan kenaikan harga tepung beras juga bisa kita tekan,” kata Zulkifli.


Unduh Lampiran : Lampiran



#menteri-koordinator-bidang-pangan #kementerian_koordinator_bidang_pangan

10 Views