Search

Berita

Zulhas Dorong Teknologi BRIN untuk Kurangi Beban Sampah dari Hulu


Zulhas Dorong Teknologi BRIN untuk Kurangi Beban Sampah dari Hulu

24 Juli 2026

Zulhas Dorong Teknologi BRIN untuk Kurangi Beban Sampah dari Hulu

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah mulai mendorong pemanfaatan inovasi teknologi sebagai solusi untuk menekan beban ekonomi akibat persoalan sampah yang semakin mendesak, khususnya di Jawa Barat. 

Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkenalkan Lahsamor, teknologi pengolah sampah organik hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang dinilai mampu mengurangi volume sampah sejak dari sumbernya sekaligus menekan biaya pengelolaan di tempat pembuangan akhir (TPA). 

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting dalam strategi penanganan sampah dari hulu hingga hilir. 

Menurut dia, pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur, tetapi juga perlu didukung inovasi yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat. 

“Teknologi harus hadir menjawab persoalan masyarakat. Kalau sampah bisa diselesaikan sebagian dari rumah dan lingkungan kita sendiri, beban TPA akan jauh berkurang,” ujar Zulhas dalam keterangannya, Jumat (24/7/2026). Dia menjelaskan, teknologi Lahsamor diserahkan kepada masyarakat sebagai salah satu solusi untuk mengolah sampah organik menjadi kompos dari sumbernya. 

Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke TPA, sekaligus menekan biaya operasional pengelolaan sampah yang selama ini terus meningkat. 

Menurut Zulhas, kondisi darurat sampah di Bandung Raya membutuhkan langkah cepat karena kapasitas TPA Sarimukti semakin terbatas, sementara fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka diperkirakan baru dapat beroperasi dalam beberapa tahun mendatang. 

“Kita tidak bisa menunggu tiga tahun sambil membiarkan sampah terus menumpuk,” ungkapnya. 

“Yang bisa kita kerjakan hari ini, kita kerjakan bersama. Pilah dari rumah, olah yang bisa diolah, sehingga hanya residu yang masuk ke TPA,” lanjut dia. Selain mendorong penggunaan teknologi, pemerintah juga menilai perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor utama dalam mengurangi biaya sosial dan ekonomi akibat persoalan sampah. 

Pemilahan sampah dari rumah dinilai dapat memperpanjang usia operasional TPA sekaligus mengurangi kebutuhan investasi untuk pembangunan fasilitas baru. 

Usai apel, Menko Pangan bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meninjau pengolahan sampah organik berbasis budidaya maggot di Kelurahan Sukamiskin. 

Model tersebut diproyeksikan menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular yang tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. 

Pemerintah menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah memerlukan kombinasi antara perubahan perilaku, pemanfaatan teknologi, kolaborasi lintas pihak, serta percepatan pembangunan infrastruktur agar dampak ekonomi akibat krisis sampah dapat ditekan secara berkelanjutan. 

“Menghadapi darurat sampah tidak ada satu solusi tunggal. Gerakan memilah dari rumah, teknologi pengolahan, kolaborasi masyarakat, serta percepatan infrastruktur harus berjalan bersama agar persoalan sampah dapat ditangani dari hulu hingga hilir,” tegas dia.

Sumber beirta: Kompas.com
Sumber foto: Humas Kemenko Pangan



#menteri-koordinator-bidang-pangan #kementerian_koordinator_bidang_pangan #Ekonomi_Sirkuler_dan_Dampak_Lingkungan #Produksi_Pangan_dan_Perubahan_Iklim

29 Views